Konawe, Britakita.net
Berwisata dipuncak gunung dengan pemandangan yang indah, plus bisa melihat situs sejarah berupa Meriam peninggalan Bangsa Portugis sejak abak ke 16 hal tersebut hanya ada di Puncak O’osu Desa Nii Tanasa, Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Untuk berkunjungi ditempat tersebut hanya berjarak kurang lebih 15 Kilomoter dari Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara, Kota Kendari dengan jarak tempuh kurang lebih setengah jam saja. Dan saat memasuki Kecamatan Lalonggasumeeto Kabupaten Konawe mata akan dimanjakan dengan hamparan pesisir pantai dengan suara gemuruh ombak.
Saat pertama masuk di Desa Nii Tanasa, terlihat aktifitas Objek Vital Nasional yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin dan Gas (PLTMG). Dan dari Objek Vital Nasional tersebut titik awal pendakian kaki O’osu tinggal beberapa ratus meter lagi.

Pendakian di Lokasi Meriam Portugis wajib didampingi warga setempat yang mengetahui jalur lokasi pendakian Gunung, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kondisi fisik yang prima menjadi salah satu kewajiban untuk mendaki, pasalnya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam dengan untuk sampai dipuncak gunung dengan kemiringan 35 sampai 60 drajat.
Saat akan memasuki hutan suara air mengalir serta suara jangkrik menyambut para penjelajah, dimana suara tersebut terdengar teratur seperti suara instrumen disebuah hotel berbintang. Kurang lebih 20 menit perjalanan pendaki akan menemukan beberapa air terjung dan Cekdam yang sengaja dibuat masyarakat untuk menjadi sumber air masyarakat Desa Nii Tanasa.

Saat perjalanan telah dilalui kurang lebih Sejam lebih, kemiringan gunung sudah mulai ekstream sehingga para pendaki harus memiliki tenaga ekstra. Namun lelah yang didapatkan saat mendaki akan terbayarkan saat berada dipuncak Gunung O’osu Meriam Portugis Desa Nii Tanasa.
Pasalnya Puncak Gunung yang berada 319 meter di atas permukaan air laut (MDPL) menyajikan pemandangan yang sangat Indah, dan hamparan Laut yang biru membuat pemandangan tersebut seakan menjadi sebuah lukisan ciptaan Claude Oscar Monet seorang Pelukis Prancis dengan karyanya yang terkenal yaitu Impression, Sunrise.
Diatas gunung dengan titik kordinat 0354’52.01” LS,12232’18,2″ BT, terlihat jelas Pantai Wisata Batu Gong, hingga Wisata Pulau Labengki. Bahkan Aktifitas Jetty Mega Industri PT Virtu Dragon Nikel Industri (VDNI) terlihat sangat jelas.

Meriam Peninggalan Portugis berbentung Lonjong dengan panjang 3,5 meter pun sakan menyambut. Meriam Peninggalan Portugis terlihat kokoh dengan batu penyanggah bawahnya, dan diketahui masyarakat setempat mempercayai bahwa Meriam Portugis tersebut salah satu benda kramat yang melindungi Desa dari mara bahaya.
Ahmad Zainul Salah satu warga Desa Nii Tanasa, yang rutin melakukan pendakian menjelaskan meriam ini sepanjang 3.5 meter dan mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke-16, yang dibawa oleh bangsa Portugis.
“Meriam ini menghadap ke laut banyak objek yang terlihat dari sini, dari Pulau Labenki, dan Pantai Batu Gong,” ungkapnya.
Zainul juga menjelaskan ciri-ciri Meriam yang mempunyai pegangan terletak pada posisi barat dan timur, sementara kondisi meriam tersebut sudah berkarat, berlumut dan di bawah meriam terdapat batu sebagai landasan meriam.

“Meriam ini berbentuk lonjong dan panjang dan mempunyai satu lubang di depan besar,” tuturnya.
Bagi yang ingin berkunjung ke lokasi tersebut, sebaiknya meminta bantuan warga sekitar untuk mengantar ke Osu Meriam Portugis guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Sebenarnya kami belum bisa membuka, ini hanya dinikmati oleh segelintir orang Nii Tanasa dan teman-teman terdekatnya saja, tapi, kalau ada orang yang ingin kesini kami pasti terbuka,” jelasnya.
Kepala Desa (Kades) Nii Tanasa, Asri Yakup yang juga ditemui menuturkan kawasan ini sudah turun status dengan kawasan pemenfaatan, dimana telah ada ruang, sehingga bisa dijadikan kawasan wisata.
“Tujuannya nanti untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan menjaga kelestarian situs peninggalan sejarah,” tuturnya.
Hanya saja, disaat ini untuk menuju ke Meriam Portugis belum ada akses, karena untuk menuju di puncak harus memakan waktu hingga 2 jam bahkan lebih. Dimana dirinya berkeinginan adanya spot-spot yang dapat digunakan para pendaki untuk beristirahat sejenak dan kemudian melanjutkan perjalanan.
“Kita kesulitan dari akses jalan, minimal tempat istrahat, kami juga telah berkoordinasi dengan pihak pengelola Tahura,” jelasnya.
Asri berharap Meriam Portugis yang berada Puncak bisa menjadi wisata yang unik terutama di Kabupaten Konawe, karena menurutnya, salah satu sejarah yang telah ditinggalkan oleh orang-orang terdahulu.
“Kami sudah berfikir untuk tetap dikelolah menjadi kawasan wisata yang betul-betul diminati oleh masyarakat Sultra hingga luar Sultra, kalau perlu Internasional. Dan bila itu terwujud pasti Desa kami akan maju dari segi Ekonominya,” tutupnya.
Laporan: Ardiansyah Rahman
Editor: Komar





