Kendari, Britakita.id
Perundungan atau yang biasa dikenal dengan “bullying” kerap terjadi di kalangan anak muda, bahkan pelajar. Bullying telah menjadi fenomena global. Di Indonesia, persentase bullying kian meningkat. Bullying sendiri bisa berakibat sangat fatal. Tidak sedikit dari korbannya yang berakhir dengan meregang nyawa. Tak hanya di dunia nyata, bullying kerapkali terjadi di dunia maya seperti media sosial.
Di Sulawesi Tenggara (Sultra), isu bullying mulai hangat diperbincangkan pada medio 2018 lalu. Saat itu, salah seorang siswi SMP di Kota Kendari mengalami perundungan oleh sekelompok remaja. Kasus serupa kembali terjadi pada tahun 2019 di salah satu SMP Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana.
Maraknya perilaku bullying ini telah meresahkan banyak pihak. Salah satunya komunitas Gerakan Kendari Mengajar (GKM). Untuk meredam fenomena bullying, GKM berinisatif mengkampanyekan anti bullying lewat proyek sosial dengan nama “Suara GKM”. Mengusung tema “be a buddy, not a bully (jadilah sahabat, bukan pengganggu), diharapkan angka bullying khususnya di Kota Kendari bisa menurun signifikan.
Koordinator GKM, Helson Mandala Putra, mengatakan, rendahnya kesadaran orang dewasa dan lemahnya sistem dukungan untuk mencegah bullying, merupakan salah satu faktor penyebab kian suburnya perilaku tidak manusiawi ini. Melalui Suara GKM, dia berharap banyak pihak yang menyadari bahaya bullying.
“Bisa jadi, anak atau keluarga kita sendiri telah menjadi korban bullying baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan bermain, tanpa kita sadari. Padahal, perundungan bisa mengganggu kondisi psikologis anak. Bahkan, akibatnya bisa jauh lebih buruk,” tutur Helson, Selasa (26/11/2019).
Karenanya, kata dia, untuk merubah lingkaran bullying khususnya di sekolah, diperlukan peningkatan kesadaran dan intervensi dari orang dewasa serta pengembangan peraturan sekolah yang jelas dalam merespon aksi bullying.
“Berangkat dari persoalan ini, GKM berupaya memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya anak dan remaja akan pentingnya pemahaman tentang bullying. Kami juga mengajak pihak sekolah untuk memberikan perhatian serius terkait hal ini. Harapannya, semua pihak bisa mendukung Suara GKM,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Suara GKM, Dzohira, menyebut, dukungan terhadap proyek sosial GKM terus berdatangan baik dari komunitas, instansi, maupun individu. Puncak suara GKM dijadwalkan pada tanggal 30 November 2019. Bentuk kegiatannya terbagi atas dua jenis. Kegiatan indoor (dalam ruangan) akan dikemas dalam talkshow interaktif dan focus group discussion (FGD). Waktu kegiatannya pada pagi hari di MTsN 2 Kendari, SMPN 4 Kendari, SMPN 9 Kendari, SMPN 18 Kendari, dan SMPN 19 Kendari.
“Alhamdulillah, pihak sekolah sangat merespon positif kegiatan kami. Bahkan, ada yang bersedia memfasilitasi. Setiap sekolah nantinya akan menghadirkan minimal 50 siswa sebagai peserta. Pematerinya dari kalangan akademisi Universitas Halu Oleo (UHO),” terang Hira, panggilan karibnya.
Adapun kegiatan outdoor (luar ruangan) akan digelar di Taman Kota Kendari pukul 18.30 Wita. Kegiatan ini terdiri dari pameran dan pentas seni dengan tema “Malam Puncak Suara GKM”. Sejumlah sekolah, komunitas, instansi, serta masyarakat Kota Kendari akan diundang dalam kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian kami terhadap pendidikan.
Terlebih pada kasus bullying di Kota Kendari yang marak terjadi di lingkungan sekolah,” tandasnya.
Laporan: Muhammad Andry
Editor: Ruddi





