Konawe, Britakita.id
Demo yang diduga salah alamat membuat masyarakat yang berada di sekitaran Mega Industri PT Virtu Dragon Nikel Industri (VDNI) di Kecamatan Morosi dan Bondoala menjadi Trauma. Pasalnya aksi demonstrasi yang dilakukan beberapa waktu lalu oleh massa aksi PT Andaniaga Boemih Energy (ABE) menggunakan senjata tajam (Sajam).
Pantauan britakita.id Sabtu (23/1/20) dilokasi demo yaitu tepat didepan pabrik PT VDNI, terlihat tidak ada lagi pedagang yang menjual dilokasi tersebut. Dimana sebelumnya aksi tersebut ada beberapa pedagang yang menjual dilokasi tersebut.
Tak hanya berdampak kepada masyarakat sekitar demo anarkis tersebut juga bernampak luas karena banyak pengendara yang selalu menggunakan jalan perusahaan sebagai jalan alternatif menuju Konawe Utara (Konut) harus memutar balik karena aksi demo yang disertai dengan sajam tersebut.
Trauma masyarakat akibat demonstrasi tersebut diungkapkan Tokoh Pemuda Bondoala, Muh. Odon saat ditemui britakita.id di Kecamatan Morosi. Yang menjelaskan masyarakat diwilayah tambang yaitu Morosi dan Bondoala sangat resah dengan aksi massa PT ABE yang menagih utang kepada PT KPP.
” Massa aksi itu rasutan orang dan mereka bawa Sajam, mulai dari parang, kris, busur bahkan pendemo juga bawa alat berat jenis Excavator. Siapa yang tidak takut, masyarakat yang melihat itu langsung lari ketakutan sampai-sampai trauma,” katanya.

(Beberapa sajam yang diamankan pihak Kepolisian usai aksi Demo massa PT ABE di Desa Morosi)
Lanjut Odon juga mengatakan bahwa Demo yang dilakukan PT ABE dengan tujuan menagih utang kepada PT KPP di Desa Morosi itu salah alamat. Pasalnya sudah sangat lama tidak ada aktifitas PT KPP dikantornya tersebut yang berada tepat disamping PT VDNI, bahkan menurut Odon PT KPP tidak berkantor lagi di Morosi karena lahan kantornya tersebut sudah menjadi wilayah PT VDNI.
” Terus terang kami masyarakat bingung, mereka mau demo PT KPP sementara PT KPP tidak lagi berkantor di Morosi itu. Mau dibilang mereka tidak tahu itu tidak mungkin, kami juga tidak bisa menapsirkan niatan mereka sebenarnya apa Demo disini,” katanya.
“Namun masyarakat tak mempersoalkan hal tersebut, karena itu urusan antara pihak PT ABE dan PT KKP, tapi jangan anarkis,” ujarnya.
Odon juga menambahkan agar demo anarkis tersebut tak terjadi lagi, karena masyarakat sekitar sangat resah dan sangat trauma. Karena Kecamatan Morosi dan Bondoala tidak pernah terjadi kekacauan seperti yang dilakukan massa PT ABE.
” Kami masyarakat disini sangat berharap kejadian tersebut tidak terulang lagi. Dan kami harap pihak Kepolisian bisa mengantisipasi agar demo anarkis tidak terjadi lagi, karena bila itu terjadi kami masyarakat yang akan sangat terganggu,” harapnya.
Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Muh Nur Akbar yang juga dikonfirmasi britakita.id membenarkan adanya sajam jenis busur ditemukan saat demo PT ABE di kawasan PT VDNI. Bahkan busur tersebut ditemukan disekitaran lokasi massa aksi saat melakukan demo.

(Mata busur yang diamankan pihak Kepolisian dilokasi demo PT ABD di Objek Vital Nasional PT VDNI)
” Betul ada sajam yang diamankan, bahkan ada mata busur yang sudah melayang kami temukan. Namun kami tidak bisa pastikan busur itu milik siapa, tapi pemilik busur terus kami cari karena ini tindakan pidana,” katanya.
Lanjut mantan Kapolres Konawe itu mengatakab pihak Kepolisian kini memperketat penjagaan di kawasan PT VDNI untuk mengantisipasi terjadi keributan kembali. Hal tersebut dilakukan selain menjaga keamanan masyarakat, juga menjaga objek vital nasional yaitu PT VDNI.
” Penjagaan diperketat untuk mengantisipasi terjadi lagi kejadian anarkis. Bahkan pihak Polda yakni Ditpamobvit Polda Sultra yang standby melalukan pengamanan di Obvek Vital Nasional yaitu PT VDNI memperketat penjagaannya,” paparnya.
Menyikapi temuan beberapa busur yang telah diamankan pihak kepolisian, Deputy Eksternal PT VDNI A Khairil Widjan mengatakan saat kejadian sejumlah aktivitas perusahaan menjadi terganggu dan beberapa karyawan tidak dapat melaksanakan pekerjaannya.
“Sejumlah karyawan kami hanya bereaksi terhadap massa aksi karena tidak dapat melakukan aktivitas pekerjaan mereka. Dan saya tergaskan tidak ada karyawan kami yang membawa busur,” tegas A Khairil Widjan.
Sementara itu, pihak PT ABE melalui humasnya Rinto yang dikonfirmasi anoatimes.id belum dapat memberikan keterangan. “Maaf dinda saat ini saya belum bisa berikan keterangan apa-apa, sebelum dapat arahan dari pimpinan,” ujar Rinto via seluler, Sabtu (1/2/2020) malam.
Laporan: Julpan
Editor: Ruddi






