Menerapkan Efisiensi Modal Kerja Dalam Meningkatkan Kinerja Perusahaan

oleh
oleh
Menerapkan Efisiensi Modal Kerja Dalam Meningkatkan Kinerja Perusahaan
David C.E. Lisapaly

Perusahaan yang berorientasi bisnis selalu membutuhkan modal kerja untuk menopang keberlangsungan kegiatan bisnisnya, misalkan uang yang masuk berasal dari penjualan akan segera dikeluarkan lagi untuk membiayai operasi selanjutnya. Oleh karenanya dana tersebut akan terus menerus berputar setiap periodenya selama perusahaan itu beroperasi.

Modal kerja merupakan masalah pokok dan topik penting yang sering kali dihadapi oleh perusahaan karena hampir semua perhatian untuk mengelola modal kerja dan aktiva lancar merupakan bagian yang cukup besar dalam pengelolaan usaha. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk selalu meningkatkan efisiensi kerjanya sehingga dicapai tujuan yang diharapkan oleh perusahaan yaitu mencapai laba yang optimal.

Masalah dalam pengambilan keputusan keuangan yang dihadapi perusahaan untuk mencapai laba optimal bisa disebabkan oleh masalah efisiensi modal kerja. Manajemen modal kerja yang terkelola sangat penting dari sisi keuangan karena jika keliru dalam mengelola modal kerja dapat mengakibatkan operasional perusahaan terhambat atau bahkan bisa terhenti melaksanakan kegiatan usahanya.

Adanya suatu analisis atas modal kerja perusahaan sangat penting untuk dilakukan untuk mengetahui situasi modal kerja pada saat ini, kemudian hal itu dihubungkan dengan situasi keuangan yang akan dihadapi pada masa yang akan datang. Dari informasi ini dapat ditentukan program atau langkah apa yang harus diambil untuk mengelolanya.

BACA JUGA :  Kemesraan Penguasa dan pengusaha saling Sengama Menjelang Munas KADIN

Kemampuan mengelola modal kerja merupakan hal yang sangat penting dalam aktivitas suatu usaha. Perusahaan yang tidak dapat memperhitungkan tingkat modal kerja secara baik niscaya tak mampu pula memenuhi kewajiban jatuh tempo dan bahkan mungkin terpaksa harus mengalami likuidasi.

Komposisi aktiva lancar harus cukup besar untuk dapat menutup hutang lancar sedemikian rupa, sehingga hal ini dapat menggambarkan adanya tingkat keamanan (margin safety) yang diharapkan. Sementara itu, jika perusahaan menetapkan modal kerja yang berlebih akan menyebabkan perusahaan overlikuid sehingga menimbulkan dana menganggur yang akan mengakibatkan inefisiensi perusahaan, di mana hal ini membuang kesempatan memperoleh laba.

Modal kerja bersifat fleksibel, artinya bahwa besar kecilnya modal kerja dapat ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan perusahaan. Besarnya modal kerja harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan, karena baik kelebihan atau kekurangan modal kerja sama-sama membawa dampak negatif bagi perusahaan. Jika modal kerja berlebihan dapat merugikan perusahaan karena menyebabkan berkumpulnya dana yang besar tanpa penggunaan secara produktif.

Efisiensi dalam manajemen modal kerja dapat tercermin dari perputarannya (working capital turnover), perputaran piutang (receivable turnover) ataupun perputaran persediaaan (inventory turnover). Perputaran modal kerja dimulai dari saat kas diinvestasikan dalam komponen modal kerja sampai saat kembali menjadi kas. Makin pendek periode perputaran modal kerja, makin cepat perputarannya sehingga perputaran modal kerja makin tinggi dan perusahaan makin efisien yang pada akhirnya rentabilitas semakin meningkat.

BACA JUGA :  Jembatan Teluk Kendari: Simbol Kemegahan yang Menjadi Panggung Kesepian

Pengambilan kebijakan modal kerja yang efisien dilakukan saat perusahaan dihadapkan pada masalah adanya pertukaran (trade off) antara faktor likuiditas dan profitabilitas. Jika perusahaan memutuskan menetapkan modal kerja dalam jumlah yang besar, kemungkinan tingkat likuiditas akan terjaga namun kesempatan untuk memperoleh laba yang besar dapat pula menurun yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya profitabilitas.

Sebaliknya jika perusahaan ingin memaksimalkan profitabilitas, kemungkinan dapat memengaruhi tingkat likuiditas perusahaan. Makin tinggi likuiditas dapat saja membuat posisi perusahaan di mata kreditur menjadi baik oleh karena terdapat kemungkinan yang lebih besar bahwa perusahaan akan dapat membayar kewajibannya tepat pada waktunya tapi di sisi lain ditinjau dari segi sisi pemegang saham, likuiditas yang tinggi tak selalu menguntungkan karena berpeluang menimbulkan dana-dana yang menganggur yang sebenarnya dapat digunakan untuk berinvestasi dalam kegiatan-kegiatan produktif lain yang dapat menguntungkan perus.

Penulis Oleh: David C.E. Lisapaly