Jembatan Teluk Kendari: Simbol Kemegahan yang Menjadi Panggung Kesepian

oleh
oleh
Jembatan Teluk Kendari: Simbol Kemegahan yang Menjadi Panggung Kesepian

Oleh: Maulana Sauala, Ph.D.

Jembatan Teluk Kendari, membentang anggun di atas air, menjadi lambang pembangunan dan kemajuan yang dirayakan. Namun, keindahan yang memesona ini juga menyimpan ironi: ia menjadi saksi bagi tragedi yang berulang, hilangnya nyawa dalam sunyi yang tak terdengar.

Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini dikenal sebagai “alienasi”, sebuah konsep yang dikemukakan oleh sosiolog klasik, Emile Durkheim, dalam teorinya tentang “anomie.” Durkheim menyebutkan bahwa modernisasi dan perubahan sosial cepat seringkali memutus ikatan sosial dan solidaritas komunitas. Ini membuat individu merasa terasing, sendiri, dan tak lagi memiliki tempat yang aman untuk bersandar. Jembatan ini, yang seharusnya menjadi penghubung, justru menjadi panggung bagi mereka yang merasa terputus dari dunia.

Dari sudut kesehatan mental, tragedi ini adalah potret nyata krisis yang kerap disembunyikan. Data WHO mencatat, lebih dari 700.000 orang di dunia mengakhiri hidup setiap tahun. Namun, stigma dan tabu membuat banyak orang enggan berbicara tentang kesehatan jiwa. Akibatnya, gejala depresi, kecemasan, dan keputusasaan yang dirasakan masyarakat seringkali berlalu begitu saja, hingga akhirnya memuncak menjadi keputusan tragis.

BACA JUGA :  KPK & Drama Korea Vincenzo

Pemerintah dan Stakeholder: Di Mana Peran Mereka?

Sayangnya, respons pemerintah seringkali reaktif, bukan preventif. Spanduk larangan berhenti, patroli dadakan, atau sekadar CCTV hanyalah langkah-langkah tambal sulam yang tak menyentuh akar masalah. Padahal, solusi jangka panjangnya memerlukan pendekatan lintas sektor:

1. Membangun sistem layanan kesehatan mental yang terjangkau dan mudah diakses di puskesmas dan rumah sakit daerah.

2. Mengintegrasikan edukasi kesehatan jiwa di sekolah dan kampus untuk menumbuhkan generasi yang lebih sadar dan peduli.

3. Menciptakan ruang aman, baik di dunia nyata maupun digital, bagi mereka yang merasa sendiri dan ingin didengar.

BACA JUGA :  Antara Marketing Mix dan Loyalitas "Sebuah Goresan Kecil Pemasaran"

Sosiologi Mengajarkan: Solidaritas adalah Kunci

Durkheim juga mengajarkan bahwa solidaritas sosial adalah perekat yang menjaga kesehatan masyarakat. Dalam konteks ini, tragedi di Jembatan Teluk Kendari mengingatkan kita bahwa solidaritas tak cukup hanya diwujudkan lewat pembangunan fisik. Ia juga harus hadir dalam bentuk dukungan emosional dan kebijakan yang berpihak pada kesehatan jiwa.

Penutup: Panggung Kesepian yang Harus Jadi Panggung Kepedulian

Jembatan Teluk Kendari memang simbol kemegahan. Namun, jika tragedi terus berulang, maka kemegahan itu hanya menjadi panggung kesepian yang sunyi. Kita harus mengubahnya: dari panggung kehilangan menjadi panggung kepedulian, dari simbol keindahan menjadi simbol solidaritas.

Karena sejatinya, pembangunan yang beradab bukan hanya tentang jembatan yang kokoh, tetapi tentang jiwa yang tak dibiarkan retak di antara beton.