25.5 C
Kendari
Minggu, Desember 4, 2022

KPK & Drama Korea Vincenzo

Bagaimana seseorang bisa menjadi jahat? Pengacara mafia Vincenzo Cassano punya jawabannya. Yaitu ketika seseorang sudah tidak tahu malu. Penggemar Netflix barangkali tidak asing dengan karakter Vincenzo. Ya, tokoh yang diperankan Song Joong-ki dalam serial drama Korea berjudul Vincenzo itu menyita perhatian publik Indonesia belakangan ini.

Dalam serial itu, Song Joong-ki berduet dengan Jeon Yeo-been yang memerankan karakter Hong Cha-young. Mereka bersama penghuni Plaza Geumga berjuang membongkar kejahatan besar yang dilakukan korporasi korup Babel Group dan kantor hukum Wusang.

Salah satu episode serial tersebut bercerita tentang jaksa Jung In-kuk. Awalnya, jaksa yang dikenal punya integritas tinggi itu berpihak pada Vincenzo dan Hong Cha-young. Jaksa itu seolah menjadi tumpuan terakhir Vincenzo dan Cha-young untuk memenjarakan Jang Jun-woo (Ok Taec-yeon), CEO Babel yang psikopat.

Singkat cerita, pada akhirnya integritas Jung In-kuk tidak bisa diharapkan. Dia berkhianat. Alih-alih menangkap Jang Han-seok dengan bukti konkret dari Vincenzo, Jung In-kuk justru ‘menjual’ integritasnya demi jabatan. Dia memilih bersekutu dengan Jun-woo yang dikenal memiliki pengaruh politik yang kuat di Kejaksaan Namdongbu, tempat Jung In-kuk mengabdi.

Vincenzo dan Cha-young tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Kepada Vincenzo, Jung In-kuk mengakui bahwa yang dilakukannya adalah kesalahan fatal dan tidak bisa diampuni. Meski begitu marah, sebagai pengacara mafia, Vincenzo tidak membunuh Jung In-kuk yang nyata-nyata berkhianat. Vincenzo cukup mengatakan bahwa Jung In-kuk tidak tahu malu.

Kekecewaan Vincenzo dan Cha-young barangkali mewakili pegiat antikorupsi dan masyarakat di Indonesia saat ini. Ibaratkan saja Jung In-kuk sebagai perwujudan penyidik KPK AKP Stepanus Robin Pattuju yang ditetapkan sebagai tersangka oleh lembaga antirasuah Kamis (22/4) malam.

Sebagai penyidik KPK, Robin ibarat tumpuan akhir pemberantasan korupsi. Namun, dia justru mengkhianati kepercayaan orang-orang yang bertumpu padanya. Dan pada akhirnya harapan masyarakat yang ingin koruptor tinggal di penjara pupus sudah.

Robin mungkin bukan Jung In-kuk yang ‘melacurkan’ seragamnya untuk mengejar jabatan. Namun, keduanya punya kesamaan. Sama-sama menghianati kepercayaan orang-orang yang mendukung pemberantasan korupsi. Keduanya sama-sama mengangkangi amanah suci menyeret koruptor ke jeruji besi.

BACA JUGA :  Antara Marketing Mix dan Loyalitas "Sebuah Goresan Kecil Pemasaran"

Ditilik dari konstruksinya, perkara yang melilit Robin sebetulnya bukan modus baru. Lulusan akademi kepolisian (akpol) 2009 itu diduga menerima suap Rp 1,3 miliar dari Walikota Tanjungbalai M. Syahrial. Duit itu untuk mengkondisikan perkara dugaan suap jual beli jabatan di Pemkot Tanjungbalai.

Robin tidak sendiri. Uang dari Syahrial itu juga mengalir ke Markus Husain, pengacara yang merupakan rekan Robin. Pertemuan antara Robin, Markus Husain dan Syahrial juga tidak ujug-ujug. Mereka dipertemukan oleh Wakil Ketua DPR Azis Syamsudin.

Kasus yang menjerat Robin menjadi ujian integritas bagi KPK. Untuk membuktikan bahwa lembaga antirasuah masih bisa diharapkan, Ketua KPK Firli Bahuri dkk mestinya tidak sekadar memprioritaskan pembangunan konstruksi penuntutan untuk Robin. Tapi juga membongkar jejaring ‘pelacuran’ penyidik di dalam tubuh KPK itu sendiri. Juga mengejar peran Azis sebagai terduga makelar kasus (markus).

Pimpinan KPK mesti melihat bahwa nilai integritas adalah harga mati penegak hukum yang tak bisa ditawar. Dan harus dipahami bahwa penyimpangan nilai integritas itu adalah penyakit kronis berbahaya yang mengancam kredibilitas secara kelembagaan. Maka dari itu harus segera diobati.

Apalagi, ‘penyakit’ semacam itu bukan sekali dua kali mencoreng nama KPK. Di tahun 2006, penyidik KPK AKP Suparman divonis bersalah oleh Pengadilan Tipikor Jakarta atas kasus pemerasan saksi PT Industri Sandang Nusantara.

Berikutnya pada 7 April 2017, empat orang penyidik dari kepolisian terekam CCTV tengah bergotong royong merusak dokumen catatan keuangan perusahaan Basuki Hariman. Keempat penyidik itu Roland Ronaldy, Harun, Rufriyanto Maulana Yusuf dan Ardian Rahayudi. Dua diantaranya, yakni Roland dan Harun, dikembalikan ke Polri saat itu.

Cerita miring di KPK tahun ini cukup masif. Masih hangat di telinga publik tentang kabar pencurian barang bukti (barbuk) emas sebanyak 1,9 kilogram yang dilakukan pegawai KPK. Oleh Dewan Pengawas (Dewas) KPK, pegawai berinisial IGAS yang bertugas di satuan tugas (satgas) pada Direktorat Pengelolaan Barang Bukti dan Eksekusi (Labuksi) itu diberhentikan secara tidak hormat 8 April lalu.

BACA JUGA :  Mengenal Sekilas Organisasi Parasemi Militer BANDERANO TOLAKI

Belum lagi kabar tentang dugaan bocornya beberapa informasi penggeledahan yang diduga dilakukan pihak internal KPK. Diantaranya, penggeledahan di rumah anggota DPR dari Fraksi PDIP Ihsan Yunus pada 24 Februari di Jakarta. Kemudian penggeledahan di kantor PT Jhonlin Baratama di Kalimantan Selatan pada 9 April.

Sederet perilaku miring oknum petugas lembaga antirasuah itu sudah lebih dari cukup menampar wajah KPK. Pertanyaannya, kenapa para petugas itu sampai tidak tahu malu berbuat demikian? Apakah sistem pencegahan korupsi di internal KPK tidak berjalan baik? Apakah ada sosok yang menginspirasi para oknum itu?

Merujuk Pasal 67 UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK sejatinya ada risiko lain yang diterima setiap anggota KPK dan pegawai pada KPK yang melakukan tindak pidana korupsi. Yakni pidananya diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana pokok. Ketentuan itu tentu menjadi ancaman serius bagi petugas KPK yang terbukti melakukan korupsi.

Pegawai-pegawai KPK di bidang penindakan masih bekerja itu fakta. Tapi jika diperhatikan secara saksama mereka seolah bekerja di medan perang yang dipenuhi ranjau mematikan. Ketika salah seorang pegawai apes menginjak ‘ranjau’, suara ledakannya akan terdengar ke berbagai penjuru. Lalu pertanyaan-pertanyaan akan bermunculan di antara mereka ; siapa menginjak ranjau? Apakah penginjak ranjau mati?

Terakhir, saya berharap para pemangku kebijakan, khususnya mereka yang memiliki pengaruh dan kekuasan mau meluangkan waktu untuk menonton serial Vincenzo. Sehingga tahu bahwa pengacara mafia yang sangat jahat sekalipun bisa menjadi sosok yang dielu-elukan banyak orang sebagai seorang pahlawan kebenaran. ***

Penulis Oleh: Agus Dwi Prasetyo

Wartawan Jawa Pos

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Populer

Berita Terkini

error: Content is protected !!