Gunakan Aparat, PT Merbau di Konsel Gusur Lahan dan Intimidasi Warga

oleh -49 Dilihat
oleh
Gunakan Aparat, PT Merbau di Konsel Gusur Lahan dan Intimidasi Warga

Konsel, Britakita.net

Puluhan masyarakat Desa Tetesinggi, Kecamatan Mowila, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) keluhkan dugaan penyerebotan lahan oleh

Perusahaan Sawit PT Merbau, Rabu (25/12/2024). Masyarakat mengaku tanah mereka telah diambil alih tanpa sepengetahuan mereka, dan mereka meminta bantuan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Ashabul Akram mewakili masyarakat Tetesingi, mengungkapkan rasa frustasinya dan berharap agar Presiden Prabowo bisa turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini.

“Tolong pak Prabowo, hari ini kami melihat bagaimana lahan kami diserobot begitu saja oleh perusahaan sawit, yaitu PT. Merbau,” ujarnya pada Rabu (25/12/2024).

Dirinya menjelaskan bahwa tanah mereka telah diambil tanpa izin atau pemberitahuan terlebih dahulu. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa perusahaan tersebut tidak hanya menyerebut tanah, tetapi juga mengintimidasi warga dengan melibatkan pihak penegak hukum untuk mengintervensi masyarakat.

“Mereka mengintimidasi kami dengan membawa pihak aparat penegak hukum (APH) untuk menekan kami,” jelasnya.

Menurutnya, meskipun masyarakat merasa tertekan dan tidak bisa melawan, mereka tetap pasrah melihat kondisi yang ada. Masyarakat, lanjutnya, sebenarnya mendukung adanya investasi dan perkembangan ekonomi melalui hirilisasi investasi, namun mereka merasa tertindas jika proses tersebut mengabaikan hak-hak mereka sebagai pemilik tanah.

BACA JUGA :  Tiga Hari Hilang, Jasad Nelayan Asal Konsel Ditemukan Terapung di Laut

“Kami mendukung investasi dan pengembangan ekonomi, tapi jika seperti ini caranya, kami sebagai masyarakat akan terus tertindas dan semakin miskin. Kami berharap agar Presiden Prabowo Subianto mendengar keluhan kami dan memberikan perhatian kepada masalah yang mereka hadapi,” katanya.

Ditempat yang sama, warga lain juga mengatakan, ada sekitar 12 orang warga yang tanahnya telah diserobot oleh perusahaan tersebut. Ia menambahkan, PT. Merbau mengusur tanah mereka secara sembunyi-sembunyi saat pemilik tanah tidak berada di lokasi.

“Mereka itu mengusur dengan sembunyi-sembunyi di saat kami tidak ada. Mereka masuk seperti orang merampas tanah,” jelasnya.

Warga ini juga menceritakan bahwa dirinya kehilangan sekitar 50 pohon sengon, merica, dan kopi yang langsung digusur oleh perusahaan tanpa pemberitahuan. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa saat mereka menanyakan perihal pengusuran tersebut kepada pihak PT. Merbau, mereka mendapat jawaban bahwa wilayah tersebut adalah milik Ibu Marni, yang disebut sebagai istri mantan kepala desa. Namun, Ibu Marni membantah klaim tersebut, dan menjelaskan bahwa lahan yang digusur bukanlah miliknya.

“Kami tanya orangnya Merbau, mereka bilang di sini wilayahnya Ibu Marni, tetapi Ibu Marni sudah turun dan menjelaskan bahwa lahan yang digusur bukan miliknya,” katanya.

BACA JUGA :  Anies Baswedan Berkunjung di Sultra Disambut Isak Tangis Warga Desa Torobulu

Warga ini juga bercerita tentang kedatangan salah satu perwakilan PT Merbau, yang mengatakan bahwa jika tanah tersebut memang milik Ibu Marni, mereka akan menghadap langsung kepadanya. Meskipun sudah dijelaskan oleh Ibu Marni, perusahaan tetap bersikukuh dengan klaim mereka.

“Salah satu orang Merbau datang ke rumah saya, mengatakan bahwa tanah kita akan digusur. Mereka bilang kalau tanah itu milik Ibu Marni, maka kami akan datang ke Ibu Marni. Saya sudah datang ke Ibu Marni, dan Ibu Marni sudah menjelaskan, tetapi mereka tetap keras kepala,” jelasnya.

Ia juga melaporkan bahwa tanah yang digusur kini sudah ditanami sawit, dan beberapa warga lainnya telah kehilangan tanah mereka sejak satu minggu yang lalu.

“Tanah ini sudah digusur, dan beberapa warga lainnya sudah kehilangan tanah mereka sejak satu minggu yang lalu. Tadi pagi mereka juga sudah menanam sawit di tanah kami,” tuturnya.

Sebagai penutup, warga ini mengungkapkan rasa keputusasaannya terhadap sikap pemerintah setempat, yang hanya menyarankan agar mereka mempertahankan tanah mereka meski dalam keadaan terancam.

“Pemerintah hanya menyuruh kami untuk bertahan, tapi kami pasrah. Kami hanya diberi pilihan untuk mempertahankan tanah kami,” pungkasnya.