Pesatnya perkembangan teknologi serta ilmu pengetahuan menciptakan banyak konstribusi dalam berbagai bidang. Salah satunya yaitu bidang Pendidikan. Kemajuan perkembangan teknologi dalam dunia Pendidikan hampir dirasakan oleh semua masyarakat Negara yang ada di dunia ini, salah satunya adalah masyarakat Indonesia yang terkhususnya untuk masyarakat-masyarakat yang bekerja dalam dunia Pendidikan.
Teknologi Digital lahir sebagai salah satu media elektronik yang sampai sekarang telah memunculkan paradigma baru baik dalam ruang lingkup pembelajaran maupun organisasi Pendidikan yang ada. Teknologi dalam dunia Pendidikan yang semakin meningkat dari hari ke hari telah menjadi aspek penting dalam percepatan pembelajaran.
Salah satu cara bagi pendidik untuk menghadapi tantangan tersebut yaitu dengan memahami teknologi pembelajaran serta terampil dalam mengimplementasikan. Teknologi pembelajaran tersebut merupakan media yang berasal dari revolusi komunikasi yang digunakan dengan tujuan untuk pembelajaran yang berdampingan dengan pendidik, buku teks, televisi, film, computer dan juga bentuk perangkat keras dan perangkat lunak lainnya.
Dikutip dalam buku “Teknologi Pembelajaran” (Khairi A, dkk, 2022), menurut Januszewski & Molenda (2007) bahwa teknologi pembelajaran yaitu sebuah cara yang sistematis dalam hal merancang, melaksanakan serta mengevaluasi semua proses pembelajaran dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran yang diinginkan, berdasarkan pada penelitian tentang pembelajaran serta komunikasi manusia, dengan menggunakan sumber daya manusia dan juga nonmanusia untuk menciptakan pembelajaran yang efektif.
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa teknologi pembelajaran terkhususnya untuk masyarakat-masyarakat yang menekuni diri dalam dunia pendidikan seperti Dosen, Guru, Mahasiswa dan Siswa sangat merasakan perkembangan dari teknologi.
Tetapi di zaman saat ini, bukan profesi itu saja, tetapi para orang tua pun telah ikut merasakan perkembangan teknologi tersebut. Terkhususnya untuk orang tua yang memiliki buah hati yang berusia dini. Mengapa demikian? Lingkungan kita sudah tidak asing lagi melihat orang tua yang apabila anaknya menangis atau merengek, mereka dengan cepat memberikan HP dengan memperlihatkan video-video yang digemari anak-anak.
Umumnya, HP merupakan salah satu dari sekian banyaknya teknologi yang berkembang pesat. Tetapi yang menjadi permasalahannya adalah, apakah HP tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran untuk anak? Sejauh mana efektifitas teknologi tersebut untuk perkembangan anak? Apakah ada manfaat yang bisa diperoleh anak untuk perkembangannya?
Perlu kita ketahui, bahwa otak memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menanggapi hal-hal yang di luar tubuh.
Hanya dalam hitungan detik, otak mampu menangkap sekian pesan sekaligus lewat pancaindera, memproses dan bahkan memberikan tanggapannya. Bahkan kemampuan otak, yang di anggap memiliki kadar mentah terendah, yaitu memorisasi, mempunyai kemampuan yang menakjubkan dalam menyimpan berbagai memori yang tidak terhitung banyaknya.
Masa kecil, sejak bayi hingga seorang anak berumur kurang lebih 7-8 tahun, adalah masa dimana otak giat mempersiapkan diri untuk tampil secara utuh. Otak membangun diri, sel-selnya saling menghubungkan dan membuat jembatan, sel dan neuron di dalam otak berkembang sedemikian rupa dan membangun jembatan penghubung atau dendrit (Rukky S, 2002).
Sehubungan dengan pernyataan tersebut, menurut Albert Bandura proses belajar melalui peniruan (imitation) terhadap perilaku orang lain yang dilihat atau diobservasi oleh seorang anak. Kita belajar dengan mengamati apa yang dilakukan oleh orang lain. Anak melihat perilaku orang lain dan kemudian mengadopsi perilaku tersebut.
Bandura (1965) melakukan sebuah penelitian kepada anak pra-sekolah yang dibagi atas tiga kelompok. Kelompok pertama diperlihatkan sebuah film yang di dalamnya si model masuk ke dalam sebuah ruangan dan memukuli secara agresif Bobo Doll. Kemudian dia diberi hadiah berupa permen dan minuman botol karena perilakunya tersebut.
Pada kelompok kedua diputarkan sebuah film yang didalamnya si model masuk ke dalam sebuah ruangan, kemudian memukuli Bobo Doll, tetapi kemudian si model dikritik dan diberi hukuman karena tindakan agresifnya tersebut. Pada kelompok ketiga diputarkan sebuah film yang memperlihatkan si model masuk dalam sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat boneka Bobo Doll yang kemudian dipukulinya secara agresif.
Pada akhir film, si model tidak diberi hukuman dan juga tidak mendapat hadiah. Artinya, tidak ada konsekuensi apa-apa terhadap perilaku agresifnya tersebut. Hasilnya adalah anak-anak yang menonton film yang didalamnya perilaku si aggressor mendapat hadiah (kelompok pertama) atau tidak mendapat hadiah (kelompok ketiga) secara spontan meniru perilaku model (agresor).
Mereka memukuli Bobo Doll itu secara agresif. Jumlah anak yang meniru tingkah laku model ini lebih banyak di kedua kelompok ini di bandingkan dengan mereka yang menyaksikan film yang di dalamnya si model mendapat hukuman/kelompok 2 (Gunarsa, Singgih D. 2008).
Dari penelitian Bandura tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar melalui observasi dapat terjadi hanya dengan menonton modelnya saja dan melalui observasi tersebut seorang anak dapat belajar berperilaku. Mungkin anak tidak langsung memberikan respons (perilaku) yang langsung dapat diobservasi, tetapi anak menyimpan apa yang diobservasinya tersebut dalam bentuk kognitifnya (Kogntiif form).
Menjawab pertanyaan pertama tentang apakah HP dapat menjadi sarana pembelajaran , maka yang memegang peranan penting tersebut adalah apa yang sedang atau telah ditonton oleh anak. Apabila anak tersebut terbiasa menonton sesuatu yang belum pantas untuk dilihatnya, seperti aksi perkelahian di video game, aksi joget-joget dalam aplikasi sosial media dan perilaku-perilaku lain seperti ketika marah membanting sesuatu, memukul sesuatu dan sebagainya, maka hal tersebut secara langsung akan terekam di dalam otak anak dan kemungkinan besar anak tersebut akan meniru perilaku yang sama.
Tetapi apabila anak tersebut di biasakan dengan tontonan yang menarik sekaligus memiliki ajaran yang baik, misalnya kartun Upin dan Ipin yang sedang mengaji, berjabat tangan kepada orangtua sebelum ke sekolah, kartun Nusa & Rara yang membaca doa sebelum makan, membaca do’a sebelum tidur, membantu pekerjaan ibu di rumah dan sebagainya, sehingga perilaku-perilaku itu tanpa sadar akan tersimpan di dalam otak anak dan Ketika anak meniru perilaku tersebut, maka hal itu dapat menjadi sebuah hasil dari pembelajaran yang baik untuk anak, bukan?
Perlunya penggunaan HP dalam kehidupan sehari-hari membuat media pembelajaran menjadi bertambah, salah satunya yaitu dulunya menggunakan buku dongeng sebagai cerita yang mempunyai pesan moral untuk anak, kini teknologi dimanfaatkan sebagai media pembelajaran tersebut.
Penggunaan teknologi tersebut jelas membutuhkan pengawasan dan perhatian penuh dari orang tua, tidak hanya sekedar memberikannya dan pergi. Karena jelas saja, bahwa sosial media yang terdapat dalam HP misalnya, apabila di manfaatkan dengan baik, maka akan mendapatkan hasil yang baik. Juga kebalikannya, apabila di gunakan dan tidak dimanfaatkan dengan baik, akan menghasilkan dampak yang tidak baik, bahkan bisa berakibat fatal untuk perkembangan anak. dalam mendukung seorang anak untuk keefektifannya belajar menggunakan media teknologi diiperlukan orang tua yang memiliki pengetahuan luas agar siap dalam membuat pilihan dan dapat menerapkan konsep yang tepat dalam penggunaannya. Dikutip dalam Jurnal Efek Penggunaan Teknologi Informasi dalam Pembelajaran Anak Usia dini (Sajida N, dkk) Merchat, (2007) mengatakan bahwa anak usia dini dapat menggunakan media digital untuk mengenal huruf atau literasi dan pemanfaatannya sangat produktif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman anak terhadap literasi. Selain itu, menjadikan teknologi sebagai sarana pembelajaran dapat membentuk moral anak melalui tontonan yang baik.
Selain itu, hasil survey KPAI yang ditulis oleh Margaret A (Komisioner Bidang Poronografi dan Cyber Crime KPAI 2017-2022) Pengalaman negative anak selama menggunakan teknologi memberikan gambaran bahwa anak pernah melihat tayangan atau iklan tidak sopan 22% dan melihat iklan judi 18% dan diperlihatkan atau dikirimi gambar tidak sopan 7% selama menggunakan teknologi (Khususnya Laptop, ipad, hp). Walaupun angka anak yang mengalami kekerasan di dunia siber kecil, namun ini ada. Dari data tersebut, jelas saja bahwa kita tidak bisa terhindar dari pengaruh negative penggunaan teknologi, terlebih lagi untuk anak yang tidak mendapatkan pengawasan dari orang tuanya.
Membantu anak untuk mengenal dan memanfaatkan teknologi adalah suatu upaya orang tua terhadap tuntutan zaman yang semakin berkembang ke Era Revolusi Industri 5.0, yang dimana semua kalangan harus siap dan pandai dalam menggunakan teknologi.
Selain itu, dengan memanfaatkan dengan baik teknologi yang ada, maka akan dapat membantu 6 aspek perkembangan anak.
Misalnya : Aspek motorik: Dengan menonton video animasi yang sedang menari, tanpa sadar anak akan ikut terangsang untuk mencobanya sehingga anak termotivasi untuk bergerak lebih banyak.
Aspek Kognitif: dengan menonton video animasi yang sedang bernyanyi, tanpa sadar anak akan mencoba mengikuti dan mengingat kata perkata dalam lagu.
Aspek Moral: menonton video kartun yang memiliki pengajaran baik. Seperti kartun Upin dan Ipin yang mengajarkan bahwa minum haruslah duduk, hormat kepada yang lebih tua, berbicara sopan kepada orang tua, dll.
Aspek Bahasa: melalui dialog dari film atau video kartun yang ditonton anak, maka secara langsung hal tersebut akan dapat menambah perbendaharaan Bahasa anak.
Aspek kerohanian: menonton video kartun Nusa & Rara, mengajarkan bahwa ketika ingin melakukan sesuatu haruslah membaca do’a terlebih dahulu. Contohnya, sebelum makan dan ketika hendak tidur.
Penulis: Inayatul Nisa dan Kanaya Humaera, Jurusan PG PAUD, FKIP Universitas Halu Oleo





