23.3 C
Kendari
Selasa, September 27, 2022

Birunya Langit Sulawesi Tenggara, Haruskah Tercemar ?

Opini oleh Ahmadi

Varian omicron belum mereda, ini artinya kewaspadaan semua pihak perlu ditingkatkan. Pun nilai kesehatan saat ini bukan hanya mahal tapi ‘ sangat mahal’. Protokol kesehatan (prokes) dan kepedulian menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar adalah kunci di masa pandemi.

Semua orang mendambakan kota dan hunian indah, bersih, nyaman sehat pun jauh dari polusi udara. Karena hunian atau kota yg bebas dari polusi berdampak signifikan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan sekitar. Sejak kita sekolah di SD guru sudah memperkenalkan istilah penghijauan di kota-kota atau reboisasi. Di era pemerintahan Joko Widodo mendorong ekosistem mangrove dengan rehabilitasi mangrove seluas 600 ribu hektare hingga tahun 2024. Baru-baru ini sekitar 20 ribu bibit pohon mangrove yang ditanam di kawasan teluk Kendari merupakan salah satu rangkaian dari peringatan Hari Pers Nasional (HPN) para dubes, tokoh nasional dan daerah ikut menanam mangrove diikuti pelajar di kota ini bermakna pentingnya mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat sejak dini merawat dan menjaga pelestarian lingkungan terutama rehabilitasi mangrove di daerah Sulawesi Tenggara. Mengutip laman News Unair,2019 bahwa dalam proses fotosintesis, tumbuhan akan menyerap CO2 dan H2O dibantu oleh sinar matahari diubah menjadi glukosa dan O2. Penyerapan emisi gas karbon menjadi lebih maksimal karena mangrove memiliki sistem akar napas dan keunikan struktur tumbuhan pantai. Telah banyak penelitian yang menyebutkan 1 hektar mangrove dapat menyerap 39,75 juta ton CO2 pertahun. emisi setara 59 sepeda motor per tahun atau 1,6 juta batang rokok setiap tahunnya

Isu lingkungan menyeruak bahkan menjadi isu global katakanlah global warming , atau perubahan iklim bahwa dunia satu-satunya yang di huni ini terasa panas di banding 10 tahun lalu. Hampir semua aktivis lingkungan hidup, WALHI misalnya menyuarakkan pentingnya menjaga lingkungan hidup yg lestari. Bahkan pernah ada Konferensi Kyoto di Jepang yg merekomendasikan untuk pembatasan gas emisi karbon (CO2) dari kendaraan bermotor karena disamping merobek lapisan ozon di atmosfer mencemari udara dan diklaim sebagai sumber polutan utama mengakibatkan pemanasan global berakibat rusaknya terumbu karang, naiknya suhu bumi, ekosistem dan habitat makhluk hidup terganggu. Sumber dan penyebab polusi udara di daerah Sulawesi Tenggara (Sultra) banyak dikeluhkan warga terutama berasal dari pertambangan dan penggalian; polutan yang dihasilkan terutama adalah debu.

BACA JUGA :  Perppu Nomor 1 Tahun 2020, Berpotensi Memberikan Imunitas Hukum Bagi Pelaku Korupsi

Salah satu momok terbesar di zaman kita adalah polusi udara, karena tidak hanya dampaknya terhadap perubahan iklim tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dan individu karena meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Ada banyak polutan yang menjadi faktor utama timbulnya penyakit pada manusia. Diantaranya, Particulate Matter (PM), partikel yang bervariasi tetapi berdiameter sangat kecil, menembus sistem pernapasan melalui inhalasi, menyebabkan penyakit pernapasan dan kardiovaskular, disfungsi reproduksi dan sistem saraf pusat, dan kanker (Manisalidis, Ioannis, et al,2020)

Dilansir dari IDNTimes materi partikulat (PM) dan cairan berbahaya atau aerosol yang memenuhi atmosfer kita. Partikel ini terdiri dari komponen seperti nitrat, sulfat, partikel debu, alergen dan serbuk sari. Partikel-partikel ini berukuran kecil lebih kecil dari sepersepuluh sehelai rambut manusia yang dibagi dua, sehingga mudah masuk ke dalam hidung dan paru-paru. Setelah terhirup, ini akan memicu masalah pada paru-paru dan jantung. Efek jangka pendeknya akan menyebabkan sakit tenggorokan, iritasi mata dan asma. Sedangkan jangka panjangnya akan memicu masalah seperti berkurangnya fungsi paru-paru dan kardiovaskuler.

SPBU vs SPLU

Polusi udara yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil menyebabkan lebih dari 8 juta kematian dini pada tahun 2018, terhitung hampir 20% dari kematian orang dewasa di seluruh dunia, menurut sebuah studi baru (Gridhealth.id, 2021). Maka muncullah solusi industri otomotif dunia di negara-negara maju sekarang sudah memproduksi mobil listrik.

Penulis memprediksi tidak sampai 10 tahun kedepan boleh jadi di Kota Kendari sudah lalu lalang mobil listrik sebagai moda transportasi publik. Artinya pengisian BBM di SPBU tidak akan sepadat sekarang yg antriannya bisa berjam-jam. Malah akan mudah kita jumpai nanti berjejer-jejer SPLU atau Stasiun Pengisian Listrik Umum di pinggir-pinggir jalan di Kota Sulawesi Tenggara sebagai pengganti SPBU berbahan bakar fosil (minyak bumi).

Pembangunan berkelanjutan

Maka isu degradasi lingkungan menjadi isu strategis dan menarik untuk dikaji semua kalangan baik di negara-negara maju maupun dinegara berkembang seperti Indonesia. Ambil contoh isu kerusakan lingkungan di area tambang di daerah Sulawesi Tenggara, kerusakan terumbu karang akibat bom ikan dan potassium, illegal fishing-kebakaran hutan dan lahan( kahutla), penggundulan hutan dan illegal logging menjadi tema kajian yang sering dijumpai dan disuarakan aktivis, pemerhati lingkungan, dan maupun media online atau di media mainstream. Mengutip laman ITS New, hasil riset Duke University pada 2019 mengungkapkan bahwa tingkat deforestasi Indonesia masih tinggi sehingga mengundang kekhawatiran global. Salah satu bentuk deforestasi atau penghilangan hutan adalah dengan menebang pohon demi pembukaan lahan baru untuk keperluan industri. Sustainable development (SD) adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk menciptakan keseimbangan diantara dimensi pembangunan, seperti ekonomi, sosial dan lingkungan.

BACA JUGA :  Membungkam FPI Dengan Mengikat Tangan Rizik, Efektifkah?

Dampak sosial ekonomi dan lingkungan akibat eksploitasi & keserakahan manusia sangat besar dan mengancam kehidupan generasi selanjutnya. Ketersediaan air bersih, habitat alam yg mebnjadi sumber utama pencaharian masyarakat rusak dan tidak produktif lagi sebagai tempat bercocok tanam, hutan gundul dimana.mana, abrasi pantai, rusaknya terumbu karang sebagai rumah ikan berdampak pendapatan nelayan menurun, kualitas air laut menurun akibat racun ikan, polusi sampah dikota-kota mencemari lingkungan, banjir dan tanah longsor tatkala datang musim hujan tiba itu semua menimbulkan cost/biaya social ekonomi yg sangat besar.

Pesan moral

Tidak perlu kita membayangkan jauh bahwa hutan tropis Kalimantan adalah sebagai paru-paru dunia- Seiring meningkatnya aktifitas di sektor industri di daerah kita pun sebenarnya masih membentang luas formasi laut dan hutan mangrove sepanjang jazirah Sulawesi Tenggara dimana di darat hutannya masih luas dan hijau, juga hutan mangrove di pesisir pantai boleh jadi Sultra menjadi pondasi penjaga ekosistem dan penopang elemen kehidupan tidak terbatas di Bumi Anoa (Sultra) bahkan hutan tropis kita berkontribusi sebagai paru-paru dunia.. Perairan laut pun msih biru dan belum tercemar, asalkan pengelolaannya tepat sasaran. Keanekaragam hayati laut serta alam yang indah nan bersih alami perlu kita rawat agar tetap lestari dan dinikmati generasi dikemudian hari. Pentingnya mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat sejak dini merawat dan menjaga pelestarian lingkungan terutama rehabilitasi hutan mangrove karena sebagai penyuplai oksigen dan menyerap karbon di daerah Sulawesi Tenggara.

Birunya laut dan udara serta hamparan hutan mangrove di Sultra sebagai indikator kualitas udara yang relatif bersih adalah anugerah gratis kelastarinnya terus harus terjaga, disyukuri karunia dari Tuhan.

Penulis : Guru Kimia SMAN 1 Kendari, Alumnus Magister Manajemn Pemasaran STIE66 Kendari-Sultra.

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Populer

Berita Terkini

error: Content is protected !!