Kendari, Britakita.net
Insiden Tertimbunnya pekerja tambang emas di SP9 Kecamatan Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana, Selasa (7/4/2026) dilokasi tambang yang diduga Illegal bukti kelalaian Polres Bombana karena melakukan pembiaran aktifitas yang telah menelan korban jiwa itu. Polda Sultra pun diminta segera memeriksa jajaran Polres Bombana dan memberhentikan Kapolres Bombana yang diduga tidak becus membersihkan tambang illegal di SP9 yang telah menjadi rahasia umum di masyarakat Bombana.
Hal itu disampaikan Lingkar Kajian Kehutanan (LINK) Sultra, Muh. Adriansyah Husen yang menilai adanya korban jiwa di lokasi penambangan yang diduga Illegal akibat kelalaian Kepolisian dalam hal ini Polres Bombana. Karena aktifitas pertambangan dilokasi tersebut telah berlangsung sejak lama bukan sehari atau dua hari saja.
“Dari kronologi berita yang saya baca, korban tertimbun diterowongan. Nah terowongan yang dibuat itu pastinya tidak digali dengan waktu singkat, kemana Polres Bombana Sehingga tidak mengetahui aktifitas illegal?,” katanya.
Lanjut LINK Sultra, tentunya aktifitas pertambangan diruang terbuka itu tentunya sangat mudah diakses oleh pihak kepolisian apalagi kurang lebih 10 Kilometer ada Polsek Lantari Jaya yang seharusnya rutin melalukan patroli.
“Jangan salahkan masyarakat jika menduga ada kongkalikong antara Penambang Illegal dan pihak Kepolisian sehingga aktifitas illegal itu bisa berlangsung sejak lama. Dan ini sudah menjadi rahasia umum aktifitas illegal dilokasi tersebut,” tembahnya.
Olehnya itu LINK Sultra meminta Polda Sultra melalui Bid Propam untuk memeriksa seluruh jajaran Polres Bombana karena diduga melakukan pembiaran aktifitas Illegal yang memakan korban jiwa. Dan meminta Kapolda Sultra untuk mencopot Kapolres Bombana
“Tidak berlebihan permintaan kami jika Kapolres Bombana harus dicopot. Dan korban jiwa akibat pembiaran aktifitas illegal dilokasi yang sama itu sudah sering terjadi,” tegasnya.
Untuk diketahui insiden tertimbunnya pekerja tambang emas di Bombana dibenarkan oleh Kasat Reskrim Polres Bombana, Iptu Cevin Thimorut Beryan Djari, saat dikonfirmasi media membenarkan kejadian tersebut. Namun, pihak kepolisian masih melakukan pengumpulan data sehingga belum dapat memberikan keterangan secara rinci terkait kronologi kejadian.
“Iya benar, saat ini masih sementara proses evakuasi keseluruhan,” ujar Iptu Cevin dikutip Metro Kendari.
Proses pencarian dan evakuasi korban melibatkan aparat kepolisian, warga setempat, serta para penambang lainnya dengan menggunakan alat berat jenis excavator. Hingga saat ini, satu jenazah telah berhasil ditemukan dan dievakuasi dari lokasi kejadian.
Pihak kepolisian menduga jumlah korban dalam insiden ini lebih dari satu orang, mengingat masih ada pekerja yang belum ditemukan.
“Korbannya lebih dari satu,” tambahnya.





