“Suara Tanah Lulo” Jadi Napas Baru, Temu Teater Mahasiswa Nusantara Hadir di Kendari

oleh
oleh
“Suara Tanah Lulo” Jadi Napas Baru, Temu Teater Mahasiswa Nusantara Hadir di Kendari
Panitia pelaksana Temu Teater Mahasiswa Nusantara (Temu Teman) ke-22.

Kendari, Britakita.net

Kota Kendari kembali bersiap menjadi panggung besar bagi insan seni teater dari seluruh Indonesia. Temu Teater Mahasiswa Nusantara (Temu Teman) ke-22 dijadwalkan akan digelar pada awal September mendatang dengan mengusung tema “Suara Tanah Lulo”.

Event berskala nasional ini akan mempertemukan berbagai lembaga seni kampus, komunitas, hingga pegiat teater dari beragam daerah. Tak sekadar ajang pertunjukan, Temu Teman menjadi ruang bertukar gagasan, mempererat jejaring, serta merawat semangat kolektif dalam dunia seni pertunjukan.

Ketua Panitia, Fatmadillah, mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan terus dimatangkan bersama sejumlah lembaga seni kampus di Kendari yang turut terlibat dalam kepanitiaan. Kolaborasi lintas komunitas ini menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan gelaran Temu Teman ke-22.

BACA JUGA :  Serap Aspirasi Warga Kota Kendari Dengan Reses, Yudhianto Mahardika Terapkan Prokotol Covid-19

“Temu Teman kali ini kami kemas dengan konsep yang berbeda dan lebih membekas. Kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya artistik, tetapi juga reflektif bagi seluruh peserta,” ujar Fatmadillah.

Ia menjelaskan, tema “Suara Tanah Lulo” dipilih sebagai bentuk respon terhadap dinamika isu lingkungan dan budaya di Sulawesi Tenggara. Tema ini menjadi simbol keterhubungan antara manusia, alam, dan warisan budaya yang terus hidup di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, kata “suara” merepresentasikan panggilan, cerita, hingga harapan. Sementara “tanah” melambangkan asal-usul, ruang hidup, serta identitas masyarakat. Adapun “lulo” sebagai tarian khas daerah menjadi simbol kebersamaan, kesetaraan, dan harmoni sosial yang masih terjaga hingga kini.

BACA JUGA :  Pendampingan KUR, Mudahkan Pelaku UMKM Mendapatkan Permodalan dari Perbankkan

“Tema ini adalah cara kami menyuarakan bagaimana tanah dan budaya ‘berbicara’ kepada manusia, tentang kehilangan, kebersamaan, dan jati diri,” jelasnya.

Lebih lanjut, panitia berharap dukungan dari pemerintah daerah serta berbagai pihak agar kegiatan ini dapat berjalan maksimal. Saat ini, proposal dan undangan tengah dirampungkan untuk segera disebarluaskan ke seluruh lembaga seni kampus di Indonesia.

Fatmadillah juga menaruh harapan besar agar Temu Teman ke-22 tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga mampu menjadi pemantik kebangkitan seni, khususnya di Sulawesi Tenggara.

“Semoga kegiatan ini menjadi momentum untuk terus menyalakan api kesenian dan memperkuat identitas budaya kita,” pungkasnya.