Budi Petani Sayur, Yang Kini Jadi Jutawan Berkat Kehadiran PT VDNI

oleh
oleh
Budi Petani Sayur, Yang Kini Jadi Jutawan Berkat Kehadiran PT VDNI

Konawe, Britakita.id

Berpenampilan sederhada, dengan baju kusam dengan celana pendek Budiono (45) terlihat seperti masyarakat biasa di Desa Morosi, Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Namun siapa sangka dengan penampilan sangat sederhana pria kelahiran 1974 silam itu adalah pengusaha yang mempunyai omset perbulannya hingga Rp 100 juta.

Dengan bermodolkan sebuah warung makan yang sangat sederhana berukuran kurang lebih 4×6 meter, berdindingkan kalsiboard dengan atap seng tanpa langit-langit Budiono berhasil raup omset hingga ratusan juta rupian perbulannya. Dimana keberhasilan pria tiga anak itu adalah salah satu dampak positif keberadaan PT Virtu Dragon Nickel Industry (VDNI) di Desa Morosi.

Kehadiran PT VDNI di Desa Morosi, membawa perubahan 100 drajat Mas Budi sapaan akrab Budiono yang sebelumnya menggantungkan hidup dengan bertani sayur-sayuran. Dengan penghasilan yang sangat pas-pasan, bahkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya Budi kerap mencari penghasilan tambahan seperti menjadi Sopir angkot, mencari kayu di hutan.

” Tahun 1997 saya beradu nasib di Desa Morosi, berbekalkan keterampilan menaman sayur. Ternyata hanya jadi petani sayur itu tidak cukup, untuk memenuhi kebutuhan saya dan keluarga. Terpaksa pekerjaan apapun saya lakukan untuk menjalani kehidupan sehari-hari,” cerita Mas Budi saat diwawancarai oleh britakita.id.

18 tahun hidup pas-pasan di Desa Morosi, membuat Budi selalu sabar dan tekun bekerja. Hingga akhirnya ditahun 2015 PT VDNI perusahaan dengan Investasi Rp 14 Triliun memilih Desa Morosi sebagai lokasinya, mengubah Budiono yang tadinya seorang dengan penghasilan sangat pas-pasan. Kini menjadi pengusaha ketring dan warung makan dengan omset hingga Rp 100 juta perbulannya.

Budi Petani Sayur, Yang Kini Jadi Jutawan Berkat Kehadiran PT VDNI

(Wajah warung makan Mas Budi di Desa Morosi)

” Saya tidak pernah bermimpi seperti sekarang ini, lah dulu disini hanya Desa yang rimbum, sepi dan jalannya hanya bisa dilalui sepeda motor. Tapi allhamdulillah PT VDNI masuk mengubah Desa ini dan Desa lainnya menjadi Desa yang sangat berkembang,”katanya.

Budiono juga mengatakan diluar sana banyak yang menganggap PT VDNI itu membawa masalah di Sultra khususnya di Morosi, Konawe. Tetapi kenyataannya PT VDNI adalah sebuah karunia untuk Desa Morosi, karena kehadiran Morosi sangat merubah kehidupan masyarakat sekitar.

BACA JUGA :  Ciptakan Ribuan Lapangan Kerja, PT VDNI Berikan Kesejahtraan Untuk Para Pekerjanya

” Orang luar ini bicara saja, disini kami yang merasakan, allhamdulillah kehadiran Virtu mengubah masyarakat dari yang awalnya tidak ada sekarang serba berkecukupan. Buktinya saya dan banyak lagi yang seperti saya. Dan saya bersama masyarakat sekitar sangat mensyukuri ini,” kata Budi yang terlihat sangat

Awal Mula Membuka Rumah Makan

Budi bersama sang istri Sumina, awal mula membuka usaha rumah makan, karena termotivasi oleh perkataan salah seorang Tenaga Kerja Asing (TKA) asal thiongkok. Dimana sebelumnya awal mula PT VDNI masuk ke Desa Morosi, Sumina menjadi juru masak para TKA, kurang lebih selama satu tahun, membuat Sumina mengerti masakan apa saja yang menjadi selera lidah para TKA.

” Dulukan pertama-pertama masuknya Virtu, sudah mulai mi ada orang Cina. Kebetulan itu orang Cina kontrak rumahku, dan istriku diminta untuk masakkan mereka. Setalah setahun jadi tukang masaknya orang Cina istriku pintar mi masak, khususnya memasak masakan yang disukai orang Cina,” katanya.

Budi bersama istri kemudian dipanggil oleh salah satu TKA Thiongkok, dan menyarankan Pasutri itu untuk membuka usaha warung makan di wilayah perusahaan. Karena dua hingga tiga tahun kedepan Desa morosi akan menjadi Desa yang sangat ramai dan sangat berpotensi untuk berbisnis makanan.

” Orang Cinanya ramah-ramah, bahkan saya buka usaha ini karena saran dari mereka. Dan saat menerima saran itu saya tidak berfikir panjang, saya langsung buka warung makan ini, karena uang pas-pasan saya kemudian mengajukan kredit ke Bank Swasta untuk memodali usaha saya,” ucapnya pria berkulit gelap itu.

Omongan pria Thiongkok itu kini menjadi kenyataan, Pria kelahiran Polewali Mamasa (Polmas) menjadi pengusaha warung makan dan Catering dengan omset Ratusan Juta perbulannya. Dimana dalam sehari omset Pria Asli Surabaya, Jawa Timur mencapai Rp 10 jutaan.

Budi Petani Sayur, Yang Kini Jadi Jutawan Berkat Kehadiran PT VDNI

(Penampakan kamar kos-kosan milik Mas Budi)

” Sehari itu saya melayani Catering sebanyak 300 dos, itu untuk karyawan di Virtu, kadang juga lebih. Allhamdulillah selain bisnis warung makan dan Catering, saya juga punya kos-kosan 42 kamar yang sewanya perbulan berkisar Rp 500 hingga Rp 1,5 juta semuanya berisi dan ada rencana saya mau nambah kamar lagi,” ucapnya dengan wajah memerah seakan malu-malu.

BACA JUGA :  Cita-cita Besar Dokter Asal Jakarta di 'Pulau Kelapa' Wawonii

Kerab Dipandang Sebelah Mata, Karena Penampilan Sangat Sederhana

Baju kaos kusam, celana pendek dan sandal jepit yang digunakan oleh Budiono menjalani hari-harinya saat beraktifitas. Bahkan terkadang menurut warga setempat Mas Budi kerap menggunakan baju robek, sehingga setiap orang yang pertama melihat Budi tak menyangka bahwa orang tersebut seorang jutawan.

Dengan omset ratusan juta perbulan, tak membuat pria dengan tinggi 160 cm itu bermalas-malasan. Karena dirinya masih turun tangan untuk menjalankan usahanya, mengantar Catering, belanja kebutuhan warung dan lain sebagainya masih dilakukannya.

“Saya kan masih mampu bekerja, jadi semua saya yang kerjakan. Bukan saya tidak percaya orang tapi saya anggap diri saya mampu untuk bekerja. Mungkin karena dari dulu saya sudah terbiasa bekerja, jadi kalau tidak kerja pusing,” katanya.

Budi Petani Sayur, Yang Kini Jadi Jutawan Berkat Kehadiran PT VDNI

(Aktisitas Budi sehari-hari mengenakan sepeda motor untuk mengantar Catering)

Kerap berpenampilan sangat sederhana, Budiono sering dipandang sebelah mata setiap orang yang baru mengenalnya. Bahkan saat hendak membeli sebuah mobil dengan cash di sebuah showroom mobil di Kota Kendari, Budi sama sekali tak mendapatkan pelayanan yang ramah, seperti orang pada umumnya yang mendatangi showroom mobil langsung disambangi dengan ramah oleh para sales marketing.

“Jadi saya datang dengan istri saya di showroom mobil, yah dengan pakaian biasa saya gunakan sehari-hari. Saya masuk kedalam itu tidak ada yang gubris, mereka hanya lihat-lihat dari kejauhan. Saya dengan istri kurang lebih 20 menit terputar-putar saja di showroom tidak ada yang perdulikan,” ceritanya sembari tersenyum.

Lanjut Budi, seakan tidak digubris Budi bersama istri pun hendak untuk pulang karena kecewa dengan pelayanan showroom. Namun saat hendak keluar, ada seorang sales yang mengenal Budi karena kebetulan marketing itu warga tetangga Desa Morosi.

“Saya hampir pulang, langsung teman itu panggil saya, dia tanya saya mau apa. Yah saya bilang mau beli mobil Avanza dengan cash. Nah setelah semua tahu siapa saya dari teman itu, para marketing mulai mengerumini saya,” katanya sembari tertawa.

Laporan: Tim Beritakita.id