Masyarakat Kampung Adat Hukaea-Laea Kecewa dengan BPDASHL Sampara, Sekertaris KTH: Tidak Komitmen

waktu baca 3 menit
Jumat, 3 Feb 2023 16:28 0 532 redaksi

Kendari, Britakita.net

Masyarakat Desa Watuwatu, Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana mempertanyakan keseriusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutananan (KLHK), Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Sampara. Pasalnya penanaman tanaman yang direncanakan sebanyak 60.500 namun yang tertanam hanya sekitar 40.000 saja, tak hanya itu beberapa komitmen yang ditelah disepakati bersama masyarakat namun tak direalisasikan oleh pihak BPDASHL Sampara.

Hal tersebut diungkapkan Sekertaris Kelompok Tani Hutan (KTH) Matabondu, Sumarlan yang menjelaskan bahwa beberapa masyarakat khususnya anggota KTH kecewa dengan BPDASHL Sampara karena tak komitmen. Dimana diawal program penanaman Pohon ini, masyarakat dijanji akan disediakan Bibit Pohon Produktif yang bisa dimanfaatkan oleh masyatakat seperti, Mangga, Rambutan dan Pohon Produktif lainnya.

“Namun saat ada bibit kami berikan bibit Pohon Bitti, Jabon dan Kemiri. Itu kita mau apakan tidak bisa juga kami apa-apakan karena bukan Pohon kami, seandainya itu Pohon kami bisa ji kami tebang nanti tapi kan itu Pohon BPDASHL,” katanya.

Lanjut Seketertaris KTH, kenapa masyarakat menginginkan Pohon Produktif karena lokasi penanaman berada diperkebunan Warga yang berada di Kampung Adat Hukaea-Laea yang berada di Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Olehnya itu jika Pohon tersebut nantinya akan berbuah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Masyarakat Kampung Adat Hukaea-Laea Kecewa dengan BPDASHL Sampara, Sekertaris KTH: Tidak Komitmen

Kondisi Bibit Pohon yang berada di Kampung Adat Hukaea-Laea yang akan ditanam sesuai Program BPDASHL Sampara. (Foto: Istimewa)

“Saat ini banyak yang mengeluh, karena Pohon itu nantinya tidak bisa kami apa-apakan,” ujarnya.

Sumarlan juga menjelaskan bahwa BPDASHL Sampara diawal program kegiatan pembuatan tanaman Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) Agroforestry tersebut akan disediakan bibit sebanyak 60.500 bibit pohon. Namun hingga saat ini menurut bibit yang telah ada baru 40.000 bibit saja.

“Jadi ada Tiga tahap untuk pengadaan bibit ini, namun yang dilakukan baru dua tahap seharusnya sudah dilakukan tahap ke tiga, tapi sampai saat ini belum dilakukan tahap ke tiganya dan setiap tahapan itu ada anggarannya,” katanya.

Menanggapi hal tersebut Kepala RHL, BPDASHL, Charles yang ditemui diruangannya menampik bahwa pengadaan bibit pohon belum selesai. Dan dirinya memastikan kegiatan di Kampung Adat Hukaea-Laea itu sudah selesai 100 persen dengan tiga tahap.

“Sudah selesai sebanyak 60.500 bibit, karena itu kegiatan tahun 2022 tidak mungkin mau nyebrang ditahun 2023. Karena ditahun 2023 akan ada program baru lagi dari BPDASHL,” katanya saat ditemui diruangannya beberapa hari lalu.

Charles juga menambahkan tentang bibit yang disediakan adalah bibit Pohon Jarbon, Bitti dan Kemiri tak sesuai dengan kemauan masyarakat karena itu hanya pohon tersebut yang dapat ditanam diwilayah Kawasan Hutan Taman Nasional.

“Maunya kami itu bibit Pohon Produktif, namun setelah kami konfirmasi ke pihak Taman Nasional itu tidak bisa yang boleh hanya Bibit Bitti, Jarbon dan Kemiri,” tutupnya.

Charles juga menambahkan bahwa untuk anggaran yang digunakan untuk Program di Kampung Adat itu, dikelola langsung oleh ke rekening KTH Matabondu yang diketuai langsung oleh Mansur Lababa. Kemudian anggaran tersebut digunakan oleh KTH sesuai dengan peruntukannya.

“Anggaran itu yang kelola ketua Kelompok, seharusnya Sekertaris KTH mengetahui pengelolaan anggarannya,” tutupnya.

Laporan: Mar

Penulis :
Editor :

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *




LAINNYA
error: Content is protected !!